SUARATERKINI, Tangerang – Ajang kompetisi kuliner internasional The 8th La Cuisine Culinary Competition 2026 semakin menunjukkan eksistensinya sebagai wadah pengembangan talenta kuliner berstandar dunia.
Untuk pertama kalinya, kompetisi yang menjadi bagian dari rangkaian Krista InterFOOD 2026 ini berhasil menembus angka 1.100 peserta dari 13 negara, sekaligus mencatat peningkatan signifikan dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya.
Digelar pada 4–7 November 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Pantai Indah Kapuk (PIK) 2, Tangerang, kompetisi selama empat hari ini menghadirkan puluhan kategori perlombaan dengan melibatkan hampir 100 juri, termasuk 45–50 juri dari mancanegara.
Penyelenggaraan kedelapan La Cuisine juga semakin memperkuat reputasinya melalui endorsement dari Worldchefs, asosiasi chef dunia yang berbasis di Paris, Prancis. Dukungan tersebut memastikan kompetisi berlangsung dengan standar internasional, mulai dari sistem kualifikasi, penggunaan peralatan, hingga buku peraturan lomba yang harus mendapatkan persetujuan Worldchefs.
Salah satu panitia penyelenggara La Cuisine 2026, Stefu Santoso dari Komite La Cuisine, mengatakan jumlah peserta tahun ini menjadi pencapaian tersendiri. Pasalnya, dalam penyelenggaraan sebelumnya jumlah peserta belum pernah menembus angka 1.000.
“Kalau tahun-tahun sebelumnya kita tidak tembus angka seribu, tahun ini total pesertanya sekitar 1.100 peserta dari 13 negara. Juri yang terlibat hampir 100 orang, dengan sekitar 45 sampai 50 orang berasal dari luar negeri,” ucap Stefu, Sabtu (7/11).
Menurutnya, besarnya jumlah peserta juga membuat penyelenggaraan tahun ini semakin kompleks. Terdapat 33 kelas kompetisi berbeda yang harus diselesaikan selama empat hari, dengan aktivitas lomba berlangsung mulai pukul 06.00 hingga sekitar pukul 20.00 WIB setiap harinya.
Untuk mendukung seluruh rangkaian kegiatan, panitia menyiapkan 29 dapur, empat ruang juri, area khusus kompetisi sate, serta panggung tersendiri untuk perlombaan gelato. Area kompetisi yang membentang hingga sekitar 88 meter menjadi tantangan tersendiri dalam mengatur jalannya perlombaan.
Meski memiliki skala penyelenggaraan yang semakin besar, antusiasme peserta dari dalam dan luar negeri menunjukkan bahwa kompetisi ini semakin mendapat tempat di kalangan pelaku industri kuliner.
Sistem Penilaian Mengacu Standar Worldchefs
Salah satu keunikan La Cuisine terletak pada sistem penilaiannya. Berbeda dengan kompetisi pada umumnya yang hanya menetapkan juara pertama, kedua, dan ketiga, La Cuisine menerapkan sistem penilaian berdasarkan pencapaian kualitas masing-masing peserta.
Peserta yang memperoleh nilai 70–79 mendapatkan medali perunggu (bronze), nilai 80–89 meraih medali perak (silver), sedangkan nilai 90–100 berhak mendapatkan medali emas (gold). Sementara peserta dengan nilai di bawah 70 tetap memperoleh sertifikat diploma sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi dan hasil yang dicapai.
Stefu menjelaskan, sistem tersebut dirancang agar peserta lebih berorientasi pada peningkatan kemampuan diri daripada sekadar mengalahkan kompetitor lainnya.
“Jadi peserta bukan bersaing satu sama lain, tetapi bertarung dengan dirinya sendiri untuk mendapatkan hasil terbaik. Karena makanan itu sangat subjektif. Kita tidak bisa hanya mengatakan ini enak dan itu juga enak, tetapi harus dinilai seberapa tinggi kualitasnya,” jelasnya.
Untuk menjaga objektivitas, setiap kategori kompetisi setidaknya melibatkan tiga juri yang berasal dari latar belakang negara berbeda. Komposisi tersebut diharapkan menghasilkan penilaian yang lebih berimbang, mengingat setiap negara memiliki karakteristik makanan, cita rasa, dan tingkat kepedasan yang berbeda.
Para juri juga diwajibkan berdiskusi untuk menyamakan persepsi sebelum menetapkan hasil penilaian. Selisih nilai ant juri dibatasi maksimal lima poin guna meminimalkan subjektivitas dan menjaga konsistensi hasil kompetisi.
Fokus Membangun SDM Kuliner Indonesia
Lebih dari sekadar ajang perebutan medali dan penghargaan, La Cuisine memiliki misi utama mendorong pengembangan sumber daya manusia (SDM) di bidang kuliner.
Pesertanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari siswa SMK, pelajar sekolah kuliner, mahasiswa perhotelan, hingga chef profesional yang bekerja di industri hotel dan restoran.
Melalui kompetisi ini, peserta mendapatkan kesempatan untuk menguji keterampilan sekaligus belajar langsung dari para chef profesional Indonesia maupun mancanegara. Mereka tidak hanya memperoleh pengalaman bertanding, tetapi juga mendapatkan evaluasi, masukan, dan koreksi dari para juri terhadap hasil masakan yang dihasilkan.
“Objektif kami adalah human development, terutama untuk orang-orang yang bergerak di bidang kuliner. Anak-anak sekolah bisa belajar langsung dari profesional berbagai negara. Mereka mendapatkan input, masukan, dan koreksi dari banyak chef,” tuturnya.
Ia menegaskan, La Cuisine tidak berorientasi pada pencapaian Michelin Star, karena penghargaan tersebut merupakan sistem pemeringkatan restoran. Sebaliknya, kompetisi ini lebih menitikberatkan pada peningkatan keterampilan, kualitas, dan profesionalisme individu yang berkecimpung di dunia kuliner.
Dengan demikian, La Cuisine diharapkan menjadi wadah pembinaan bagi generasi muda Indonesia untuk mengembangkan kompetensi sekaligus mempersiapkan diri menghadapi persaingan industri kuliner di tingkat internasional.
Medali Menjadi Portofolio Profesional
Selain memperoleh medali, trofi, dan sertifikat, peserta juga berkesempatan mendapatkan hadiah uang tunai maupun produk dari sponsor. Salah satu penghargaan bagi peserta dengan pencapaian nilai tertinggi bahkan menyediakan hadiah uang sebesar Rp5 juta.
Menariknya, seluruh hasil kreasi makanan dan minuman yang dilombakan tetap menjadi hak peserta. Penyelenggara tidak mengambil alih resep maupun hasil karya mereka. Dokumentasi hasil masakan dapat dimanfaatkan sebagai materi promosi sponsor, sementara peserta tetap bebas menggunakan karya dan pencapaian kompetisi sebagai portofolio profesional.
Menurut Stefu, penghargaan yang diperoleh dari kompetisi dapat menjadi nilai tambah bagi peserta, termasuk dalam membangun kepercayaan pelanggan terhadap bisnis kuliner yang mereka jalankan.
Ia mencontohkan peserta kompetisi gelato pada penyelenggaraan sebelumnya yang memasang piagam penghargaan di restoran miliknya. Hal serupa dilakukan peserta asal Yogyakarta yang memajang sertifikat kemenangan di rumah makan kecilnya sebagai bukti pengalaman dan pencapaian profesional.
Ke depan, penyelenggara bersama Krista Exhibitions berkomitmen mempertahankan La Cuisine sebagai agenda kompetisi kuliner internasional di Indonesia.
Melalui penyelenggaraan yang berkelanjutan, La Cuisine diharapkan tidak hanya menjadi panggung unjuk keterampilan para chef, tetapi juga ruang pembelajaran, pertukaran pengetahuan, dan pembentukan generasi profesional kuliner Indonesia yang mampu memenuhi standar industri bertaraf dunia.


