SUARATERKINI, Tangerang – Teh Indonesia tak sekadar memiliki kekayaan cita rasa, tetapi juga menyimpan peluang ekonomi yang besar jika dikembangkan melalui inovasi, kreativitas, dan peningkatan kualitas. Untuk mendorong potensi tersebut, Asosiasi Artisan Teh Indonesia (ARTI) bersama Krista Exhibitions meluncurkan Indonesia Tea Artisan Championship atau KITA Championship dalam rangkaian Krista InterFood 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, Jumat (6/11/2026).
Program ini menjadi langkah strategis untuk mengangkat nilai teh artisan Indonesia sekaligus mengubah persepsi masyarakat terhadap teh lokal yang selama ini kerap dipandang sebagai minuman sederhana dengan harga murah.
Peluncuran yang berlangsung di Main Stage Krista InterFood 2026 tersebut melibatkan pelaku industri teh, bartender, praktisi, komunitas, pemerintah, serta berbagai pemangku kepentingan. Melalui kompetisi ini, ARTI ingin membangun ekosistem industri teh yang lebih kompetitif dengan mengedepankan kompetensi, kreativitas, dan inovasi.
Ketua Umum ARTI, Redha T Ardias, mengatakan KITA Championship merupakan kelanjutan dari berbagai upaya edukasi dan promosi yang telah dilakukan organisasi tersebut untuk memperkenalkan karakter serta keunggulan teh Indonesia.
Menurutnya, ARTI telah menggelar lebih dari 100 workshop dengan jumlah peserta berkisar 10 hingga 65 orang dalam setiap kegiatan.
Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat bahwa Indonesia memiliki teh berkualitas tinggi dengan karakter dan cita rasa yang beragam.
Redha menilai, salah satu tantangan industri teh nasional adalah masih rendahnya apresiasi terhadap produk lokal. Padahal, Indonesia memiliki potensi teh yang tidak kalah menarik, mulai dari teh hitam, teh hijau, teh putih, teh kuning, hingga teh merah.
“Selama ini, ARTI aktif membangun kesadaran masyarakat melalui edukasi, workshop, dan berbagai kegiatan pameran. Kami ingin masyarakat lebih mengenal teh Indonesia, termasuk kualitas, karakter, dan potensi yang dimilikinya,” ucapnya.
Ia menambahkan, peningkatan nilai tambah teh harus diikuti penguatan branding dan edukasi pasar. Dengan demikian, teh Indonesia tidak hanya diposisikan sebagai komoditas, tetapi juga produk bernilai tinggi yang memiliki identitas dan daya saing.
Lebih jauh, pengembangan industri teh juga berkaitan erat dengan kesejahteraan petani dan keberlangsungan perkebunan. Dalam sekitar 20 tahun terakhir, sejumlah perkebunan teh mengalami penyusutan dan beralih fungsi, salah satunya akibat nilai ekonomi teh yang belum memberikan kesejahteraan memadai bagi petani.
“Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan petani teh, sekaligus menjaga keberlangsungan perkebunan teh dan lingkungan alam Indonesia,” jelasnya.
Redha melihat peluang pengembangan teh Indonesia melalui pendekatan single origin, seperti yang telah berkembang dalam industri kopi. Setiap daerah memiliki karakter teh yang berbeda, dipengaruhi varietas tanaman, kondisi lingkungan, dan proses pengolahan.
Penggunaan pucuk daun teh pilihan dengan standar kualitas terbaik juga menjadi salah satu cara menghasilkan produk yang memiliki cita rasa khas dan nilai jual lebih tinggi.
Kemenperin Dorong Lahirnya Wirausaha Baru
Dukungan terhadap pengembangan kompetensi artisan teh juga disampaikan Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Direktur Mintemgar Kemenperin, Merrijantij, menyambut positif penyelenggaraan KITA Championship sebagai wadah untuk meningkatkan profesionalisme, kreativitas, dan kualitas sumber daya manusia di industri teh nasional.
Menurutnya, kompetisi tidak hanya menjadi ajang unjuk keterampilan, tetapi juga sarana untuk mengembangkan kemampuan peserta dalam memahami bahan baku, kualitas teh, komposisi, serta teknik pengolahan minuman.
Ia mengungkapkan, Kemenperin sebelumnya telah menyelenggarakan kompetisi serupa setiap Agustus. Meski masih berskala terbatas dan baru berlangsung tiga kali, kegiatan tersebut mendapatkan respons positif, termasuk dari perwakilan negara sahabat.
Pada penyelenggaraan tahun ketiga, kegiatan tersebut dihadiri sekitar 18 perwakilan kedutaan, dengan total 26 perwakilan dari berbagai negara.
Merrijantij menilai, kompetisi seperti KITA Championship memiliki potensi untuk melahirkan talenta profesional sekaligus mendorong inovasi produk yang dapat dikembangkan menjadi peluang bisnis.
“Kompetisi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan talenta yang terampil secara teknis, tetapi juga mampu menciptakan inovasi produk. Dari inovasi tersebut, terbuka peluang komersialisasi, tumbuhnya wirausaha baru, serta semakin luasnya pasar produk minuman berbasis teh,” ungkapnya.
Ia berharap Indonesia Tea Artisan Championship dapat berkembang menjadi agenda nasional yang diselenggarakan di berbagai daerah. Dengan begitu, talenta dari seluruh Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan dan kreativitasnya.
Libatkan Generasi Muda, Bangun Bisnis Teh Berkelanjutan
Selain kompetensi, keterlibatan generasi muda menjadi perhatian penting ARTI dalam membangun masa depan industri teh Indonesia.
Ketua Dewan Pembina ARTI, Iriana Ekasari, mengatakan organisasi tersebut memberikan ruang bagi generasi muda untuk terlibat dalam kepengurusan. Sementara itu, para pendiri dan anggota senior berperan memberikan pendampingan melalui posisi penasihat dan pembina.
Menurutnya, regenerasi menjadi faktor penting untuk menarik lebih banyak anak muda agar melihat industri teh sebagai sektor yang memiliki prospek bisnis sekaligus nilai keberlanjutan.
Namun, semangat berwirausaha perlu dibarengi pemahaman terhadap kualitas produk, bahan baku, dan keunggulan kompetitif.
“Anak muda membutuhkan pendampingan agar bisa mengembangkan bisnis dengan produk yang benar-benar berkualitas. Di sinilah peran generasi senior untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan, mulai dari aspek tanaman, pengolahan, hingga berbagai perkembangan industri teh,” ujarnya.
Iriana mengungkapkan, pengalamannya memperkenalkan dunia teh kepada hampir 200 anak muda menunjukkan adanya ketertarikan yang cukup besar. Salah satu pendekatan yang dilakukan adalah mengajak mereka mengunjungi perkebunan teh secara langsung.
Melalui pengalaman tersebut, generasi muda dapat mengenal proses pemetikan daun teh, memahami perbedaan cita rasa berdasarkan varietas tanaman, sekaligus melihat hubungan perkebunan teh dengan kelestarian lingkungan.
Ia menilai, bisnis teh memiliki peluang untuk dikembangkan secara berkelanjutan karena dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pelestarian alam.
“Ketika mereka datang langsung ke kebun teh dan mengetahui bahwa setiap jenis teh memiliki rasa berbeda, mereka mendapatkan pengalaman baru. Mereka juga melihat bagaimana perkebunan teh berhubungan dengan hutan, habitat, dan kelestarian alam. Dari situ muncul pemahaman bahwa kita bisa berbisnis sekaligus menjaga alam dan masa depan,” jelasnya.
Saat ini, ARTI memiliki sekitar 30 anggota aktif dari berbagai latar belakang, mulai dari pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pemilik perkebunan teh swasta, unsur pemerintah, hingga masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan industri teh.
KITA Championship sendiri menjadi kelanjutan dari program Artisan Tea Talent yang telah berjalan selama empat tahun terakhir sebagai wadah pencarian dan pengembangan talenta di bidang teh.
Tea Talkshow dan Demonstrasi Tea Mixo Meriahkan Peluncuran
Peluncuran KITA Championship turut dimeriahkan dengan sejumlah kegiatan yang memperkenalkan potensi teh Indonesia melalui perspektif industri, kreativitas, dan inovasi penyajian.
Salah satu agenda utama adalah Tea Talkshow bertajuk “Reimagining Indonesian Artisan Tea Industry” yang menghadirkan Shane dari Teashane, Nicky dari Jakarta Bartender Club (JBC), Harianto dari ASKI, serta Iriana Ekasari dari DTI dan ARTI.
Diskusi tersebut membahas peluang pengembangan industri teh artisan, mulai dari inovasi produk, kreativitas penyajian, hingga penguatan potensi teh lokal agar semakin dikenal masyarakat.
Acara juga menghadirkan tiga sesi demonstrasi Tea Mixo Show yang dibawakan Aldy AK dari Matchamart Indonesia, Okky Triana dari Jelajah Rasa, serta Bronto Yudha dari JBC. Ketiganya memperlihatkan beragam kreasi minuman berbasis teh dengan teknik pengolahan dan penyajian yang inovatif.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan oleh Mei P. Chandra selaku pembawa acara sekaligus moderator, serta pertunjukan juggling oleh Nicky dari Willford’s.
Dalam kesempatan tersebut, ARTI juga menyerahkan plakat penghargaan Paramasraya kepada Krista Exhibitions sebagai bentuk apresiasi atas dukungan dan kolaborasi dalam pengembangan industri teh artisan Indonesia.
Prosesi peluncuran KITA Championship kemudian dilakukan bersama perwakilan Kemenperin, DTI, Krista Exhibitions, dan ARTI, ditandai dengan efek confetti serta pemutaran video profil ARTI.
Melalui KITA Championship, ARTI dan Krista Exhibitions berharap tercipta ruang kolaborasi berkelanjutan yang mempertemukan pelaku industri, artisan, bartender, komunitas, dan generasi muda untuk mengembangkan kualitas serta kreativitas produk teh Indonesia.
Redha menegaskan, seorang artisan tidak cukup hanya memiliki keterampilan dalam mengolah dan menyajikan produk. Mereka juga harus memahami kualitas hasil karya serta memiliki tanggung jawab sosial dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Artisan bukan sekadar orang yang jago atau terampil. Mereka harus memahami apa yang dikerjakan, mengetahui kualitas produk yang dihasilkan, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” pungkasnya.
Dengan hadirnya KITA Championship, teh Indonesia diharapkan semakin dikenal di pasar nasional maupun internasional, memiliki nilai tambah lebih tinggi, serta mampu membuka peluang usaha baru yang berdampak langsung pada kesejahteraan petani dan keberlanjutan perkebunan teh nasional.


