Suaraterkini.com, Jakarta,- Melalui program Direktorat Jendral Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kemendikbud RI, Politeknik Negeri Jakarta dipercaya sebagai kampus pendamping kemitraan dalam rangka meningkatkan kuantitas dan kualitas dengan IDUKA (Industri, Dunia Usaha, dan Dunia Kerja). Sebagai finalisasi program tersebut, Politeknik Negeri Jakarta melaksanakan penandatanganan MoU kemitraan antara industri dan afiliasi Pendidikan Tinggi Vokasi (PTV) di Hotel Aston Priority, TB Simatupang, Jakarta, baru-baru ini.

Pelaksanaan Forum Group Discussion ini merupakan ajang pengenalan serta pemaparan mitra industri kepada Politeknik Afiliasi. Sehingga kedepannya nanti antara mitra industri dan Politeknik Afiliasi dapat saling bersinergi untuk meningkatkan mutu pendidikan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Direktur Politeknik Negeri Jakarta, Dr sc. Zainal Nur Arifin mengatakan, Dalam Program Kampus Pendamping Kemitraan ini, Politeknik Negeri Jakarta ingin berpartisipasi dalam berbagi pengalaman dan pengetahuan pada PTV dengan Satuan Pendidikan Vokasi Afiliasi, yang dalam hal ini meliputi Politeknik Sukabumi, Politeknik Enjineering Indorama, Politeknik Bunda Kandung, Politeknik PGRI Banten, dan Politeknik META Industri.

“Penandatanganan nota kesepakatan bersama 5 mitra Politeknik ini bertujuan untuk bersama-sama meningkatkan kualitas dari pendidikan vokasi. Salah satunya adalah dengan merumuskan kurikulum yang berbasis industri. Dengan adanya kelima mitra Politeknik beserta mitra industrinya ini justru akan memperkuat kita dalam melakukan link and match antara kurikulum dan industri. Tak hanya itu, dengan adanya kolaborasi ini pun diharapkan dapat memperbanyak mitra industri satu sama lain ke depannya”, ungkapnya

Hal senada dikatakan Ketua Program Kampus Pendamping Kemitraan PNJ, Iwan Supriyadi, BSCE., M.T, bahwa setelah penandatanganan nota kesepakatan, maka tindak lanjut nyata yang akan dilakukan adalah segera menyusun kurikulum yang berbasis industri agar mahasiswa lulusan vokasi dapat memiliki kemampuan sesuai kebutuhan industri. Lalu peningkatan SDM dan tenaga pendidik dari mitra industri pun akan dilakukan dengan memberikan pelatihan AA dan Pekerti.

“Pelatihan ini penting dilakukan mengingat metode pembelajaran pendidikan vokasi berbeda dengan metode pembelajaran di perguruan tinggi lainnya. Selain itu, tujuan lainnya berkolaborasi dengan mitra Industri adalah agar kita dapat terus mengetahui perkembangan teknologi setiap tahunnya. Dengan berorientasi pada penyusunan kurikulum yang berbasis industri otomatis kita dapat menyediakan dosen-dosen atau tenaga pendidik yang berkompeten dibidangnya. Sehingga mahasiswa-mahasiswa lulusan vokasi nantinya akan mampu menghadapi persaingan di dunia kerja, karena sudah dibekali softskill dan hardskill yang sesuai dengan kebutuhan industri” tuturnya.

Wakil Direktur di Politeknik PGRI Banten, Iqbal menambahkan, Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh Politeknik PGRI Banten adalah sulitnya aturan atau kebijakan yang belum match antara industri selaku stakeholder dan kampus. Kesulitan lainnya adalah pelaksanaan teknis di lapangan saat magang, mahasiswa sering tidak diarahkan oleh perusahaan selama magang. Kemudian tidak ada MoU yang mengikat antara perusahaan dan Politeknik PGRI, dan masih banyak masalah lainnya terkait peningkatan kualitas kampus.

Hal ini mungkin menjadi permasalahan yang sama bagi Politeknik Afiliasi lainnya, sehingga diharapkan melalui Program Kampus Pendamping Kemitraan ini mampu menjadi solusi bersama. Lebih lanjut disampaikan, pola kerjasama yang diharapkan oleh para mitra Politeknik Afiliasi adalah Peningkatan kualitas lulusan sesuai kompetensi dibidangnya, Sinergi pembelajaran dunia industri dan pemanfaatan CSR untuk alat praktek, Sertifikasi kompetensi, dan Peningkatan SDM melalui pendidikan dan pelatihan, pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here