SUARATERKINI, Jakarta- Pendemi covid -19 yang berjalan sudah lebih dari satu tahun, membuat semua kebiasaan sehari-hari berubah. Aktifitas yang biasanya dilakukan dengan interaksi langsung, mau tidak mau harus dilakukan melalui media daring. Adaptasi perlu dilakukan agar terhindar dari stres dan depresi selama pandemi.

Hal tersebut dikatakan Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana (UMB) Yenny, M.Psi, Psikolog, dalam acara Pengabdian Pada Masyarakat dengan guru SMA se-DKI Jakarta yang diselenggarakan secara virtual baru-baru ini

“Kejadian Covid 19 memunculkan masalah kesehatan jiwa dan psikososial, berupa ketakutan cemas dan panik, tutur Yenny yang juga Psikolog Klinis.

Menurutnya, gejala awal yang terjadi dari terganggunya kesehatan jiwa dan psikosial adalah khawatir, gelisah, panik, takut mati, takut kehilangan kontrol, takut tertular, dan mudah tersinggung. Tidak hanya itu, secara fisik, orang yang terlalu khawatir dan cemas selama masa pandemi juga mengalami Jantung berdebar lebih kencang, nafas sesak, pendek dan berat, mual, kembung, diare, sakit kepala, pusing, kulit terasa gatal, kesemutan, otot-otot terasa tegang, dan sulit tidur yang berlangsung selama dua minggu atau lebih.

Karena itulah, selama masa pandemi ini, Yenny menyarankan agar selama menghadapi masa pandemi, guru yang menjadi gerbang utama penyampai informasi kepada anak didik, harus memiliki sikap mental positif yang ditandai dengan sikap tenang dan terukur. Tidak hanya itu, selama beraktifitas di ruamh, guru juga harus mencari mencari tahu apa yang harus dilakukan dan memberikan respons yang tepat dan wajar.

Dengan sikap mental yang tenang dan terukur dari guru, maka diharapkan semangat positif akan menular kepada anak didik yang juga mengalami kondisi yang sama dimasa pandemi. Sinergitas antara Guru dan Siswa untuk bersama sama bertumbuh dalam masa pandemi, adalah kunci agar tetap terhindar dari masalah psikis dan fisik selama pandemi covid 19.

Hal senada juga diungkapkan Dr. Arie Suciyana, M,Si. Menurut Arie didepan Guru-Guru se DKI yang berjumlah 100 orang ini, menjaga kesehatan mental selama masa pandemi diantaranya dengan menseleksi informasi yang masuk agar terhindar dari informasi HOAX yang justru membuat semakin cemas.

Sementara itu, menutup materi yang disampaikan Psikolog Yennya yang juga angkit di lembaga HIMPSI ini menyarankan jika mengalami cemas selama pandemi, maka perlu mengecek kecemasan yang dialami di www.dfunstation/termometer-kecemasan. Meski tidak menghasilkan diagnosis, namun tes ini setidaknya membantu untuk menentukan langkah selanjutnya yang harus dilakukan, pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here