SUARATERKINI, Jakarta- Beberapa kebiasaan belajar negatif kerap menjadi fenomena pada remaja diantaranya seperti belajar hanya saat menjelang ujian, masuk jurusan sekolah karena paksaan dari orang tua bukan karena kesadaran diri akan kemampuan dan minat (40%), belum memiliki rasa kepercayaan diri dan belum berani menampilkan kemampuan di depan umum (38%), belum mampu menentukan nilai dan norma yang berlaku (64%), melakukan aktivitas mengikuti teman, termasuk dalam belajar (58%), bergantung pada orang tua (38%), belum mampu bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukan (36%), belum mampu menentukan hal yang baik atau tidak untuk dirinya (46%), sering menanyakan pendapat kepada orang tua (64%), dan remaja masih bimbang untuk memilih perguruan tinggi yang akan dipilihnya nanti setelah lulus SMA (8%) serta bolos, menyontek, dan mencari bocoran soal-soal ujian (Hidayat et al. 2020).

Beberapa dosen Universitas Mercu Buana (UMB) Jakarta seperti Melani Aprianti, Aulia Kirana dan Sri Wahyuning Astuti, melakukan penelitian terkait fenomena tersebut, hasil wawancara lain juga menyebutkan bahwa mereka sering tidak masuk sekolah, kurang termotivasi belajar dan tidak memiliki cita-cita dan tujuan di masa depan. Dari masalah-masalah yang kerap dialami remaja dalam belajar diatas terlihat kurangnya kesadaran akan tanggung jawab serta kemandirian dalam belajar Menurut Pratiwi & Laksmiwati (2016), adanya fenomena tersebut menimbulkan masalah ketika akan memasuki pendidikan yang lebih tinggi. Kemandirian belajar sendiri sangatlah diperlukan dalam sistem pendidikan tinggi, karena akan membantu individu untuk belajar secara aktif. Sedangkan Menurut Schunk & Zimmerman (2012), Kemandirian Belajar merupakan kemampuan untuk mengatur suatu tugas yang diberikan.

Melihat pentingnya kemandirian belajar bagi remaja, ketiga dosen tertarik melakukan penelitian mengenai kemandirian belajar pada remaja. Dalam hal ini penulis ingin melihat gambaran kemandirian belajar pada remaja di wilayah pinggiran Jakarta barat tersebut.Pastisipan penelitian ini berjumlah 50 orang yang merupakan siswa SMP yang aktif pada pusat kegiatan remaja di wilayah pinggiran Jakarta barat dengan usia berkisar 13-15 tahun.

Berdasarkan hasil penelitian ini didapat hasil bahwa kemandirian belajar remaja di wilayah tersebut cenderung rendah. Zimmerman (2002) menjelaskan faktor – faktor yang mempengaruhi kemandirian belajar terdiri dari faktor internal dan eksternal. Terkait dengan hasil penelitian kami, faktor dari individu sendiri yang mempengaruhi kemandirian belajar seseorang salah satunya adalah tujuan yang ingin dicapai, semakin banyak dan kompleks tujuan yang ingin diraih, semakin besar kemungkinan individu melakukan pengelolaan diri (Zimmerman dan Pons dalam Ghufron dan Rini, 2012). Pada remaja wilayah ini, mereka umumnya belum memiliki tujuan ke depan sehingga motivasi untuk mengelola usaha belajar mereka. Sedangkan faktor eksternal yang berkaitan dengan rendahnya kemandirian belajar remaja adalah dukungan sosial keluarga dan teman sebaya. Adanya dukungan sosial dari keluarga berupa memperoleh kehangatan, perhatian, dorongan, arahan, dan bimbingan dari keluarga apabila mengalami kesulitan belajar meningkatkan kemandirian belajar siswa. Dalam penelitian kami, orang tua remaja yang ditemui cenderung sibuk dalam mencari nafkah karena tuntutan ekonomi sehingga kurang memperhatikan pendidikan anaknya. Selain keluarga, Manan (dalam Ristianti, 2008) mengatakan bahwa dukungan dari teman sebaya akan membuat individu merasa keberadaan dan kemampuan dirinya diakui. Keakraban dengan cara membagi pikiran dan perasaan dapat memberikan semangat belajar. Dalam hal remaja di wilayah ini, menurut hasil wawancara, teman-teman di lingkungan tersebut memang tidak mengutamakan belajar karena pengaruh faktor ekonomi dan juga faktor lain seperti lebih mementingkan kegiatan diluar belajar.

Melihat kondisi rendahnya kemandirian belajar remaja, maka peneliti memberikan beberapa saran bagi pihak-pihak yang terkait sebagai berikut: Kepada siswa disarankan untuk mulai memikirkan cita-cita dimasa depan agar menjadi motivasi. Memiliki jadwal belajar yang tetap, memiliki perencanaan dalam belajar, melakukan pengorganisasian dalam memahami suatu materi, misalnya menyusun tabel, gambar, atau grafik agar mempermudah dalam memahami materi pelajaran serta mengatur diri dan mengontrol diri dengan mengatur waktu belajar dapat meningkatkan kemandirian belajarnya.

Kepada guru disarankan untuk menciptakan ruang kelas yang nyaman dan tidak terlalu kaku dalam mengajar, sehingga siswa menyenangi pelajaran. Guru diharapkan mampu membantu siswa dalam menyusun rencana pembelajaran yang ingin di capai. Selain itu, guru juga bersedia membantu siswa dalam menghadapi kesulitan dalam pelajaran.

Dari hasil penelitian, perhatian dari orang tua terhadap kegiatan belajar anak dapat menambah motivasi belajar anak sehingga disarankana orangtua dapat memerhatikan kegiatan belajar anak dan mengembangkan kemampuan belajar di rumah dengan memberikan perhatian yang hangat. Orangtua dapat memantau kegiatan belajar anak, sehingga memungkinkan anak menghindari berbagai gangguan, misalnya dengan membuat anak belajar dengan nyaman, pengaturan ruang belajar yang tenang. Orangtua diharapkan dapat mengajak anak untuk berdiskusi terkait kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa di sekolah juga bagaimana cara yang dapat mereka lakukan dalam mengatasinya. Membiasakan mereka secara mandiri menyiapkan bahan belajar juga dapat membentuk kebiasaan mandiri belajar anak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here