SUARATERKINI, Tanjungpandan – Pasokan berbagai jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Pertamina Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) menuju Pertamina Kabupaten Belitung hingga Senin (13/9) masih normal.

PJS Area Manager Communication, Relation & CSR Sumbagsel PT Pertamina Agustina Mandayati mengatakan stok BBM termasuk di antaranya produk subsidi dan penugasan sudah disalurkan sesuai kuota yang telah ditetapkan pemerintah daerah.

“Jadi untuk stok dan penyaluran BBM di Belitung dalam kondisi aman. Pertamina Patra Niaga menyalurkan BBM sesuai dengan kuota yang telah ditetapkan,” kata Agustina kepada Suaraterkini, Senin (13/9).

Setiap hari, menuruntya, untuk penyaluran BBM ke SPBU – SPBU di Pulau Belitung, jenis premium 156 kilo liter (KL), pertalite 110 KL, dan Pertamax 12 KL.

Sedangkan dari jenis BBM tersebut, yang sekarang ini berstatus public service obligation (PSO) atau BBM subsidi, premium dan Biosolar.

“Itu termasuk penyaluran dari FT (Fuel Terminal) Tanjungpandan ke SPBU dan Pertashop sebagai lembaga penyalur resmi, semua dalam kondisi aman,” jelasnya.

Terkait adanya kelangkaan BBM, pihaknya membenarkan bahwa ada peningkatan permintaan di Belitung.

“Menurut pantauan kami di lapangan, terjadi peningkatan demand BBM yang cukup signifikan di Belitung dikarenakan adanya peningkatan aktifitas di masyarakat,” ujarnya.

Sementara disinggung mengenai apakah diperbolehkan pada pembelian BBM di SPBU menggunakan jeriken maupun tangki modifikasi berukuran besar, kata dia, dinilai sangat berbahaya sekali dari sisi safety.

“Pertamina akan melakukan penindakan, jika ditemukan lembaga penyalur resmi pertamina, seperti SPBU melakukan pelanggaran. Tapi di luar lembaga penyalur resmi, seperti pengecer bukan kewenangan Pertamina,” bebernya.

Sementara itu, pengawas SPBU di Air Merbau, Tanjungpandan, Lisa Erinda mengatakan terkait pasokan masih berada pada kondisi aman.

“SPBU Air Merbau diberi pasokan premium sebanyak 24 ton pada Jumat, Sabtu, dan Senin, sementara untuk hari Selasa-Kamis dikirim 16 ton,” ujarnya.

Sedangkan untuk pertalite diberi jatah per hari 8 sampai 12 ton, tergantung permintaan. Menurutnya, dengan pasokan tersebut biasanya maksimal pada pukul 20.00 WIB BBM sudah habis, namun dengan penumpukan konsumen seperti ini, bisa jadi siang pukul 13.00-14.00 jenis bensin dan pertalite bisa jadi habis.

DIkatakannya, SPBU tersebut tidak melayani konsumen yang membeli dengna jerigen. Untuk mobil yang dimodifikasi untuk pengerit juga tidak diizinkan disini.

“Tidak tahu terkait para pengerit yang membeli banyak untuk penambang timah. Sebenernya memang SPBU tidak boleh melayani pembelian melalui jerigen plastik. Hanya boleh jerigen yang sudah berstandar SNI, karena di setiap SPBU ada pengawasnya,” lanjutnya.

Lisa menambahkan, untuk mengantisipasi antrean panjang tersebut, pihaknya akan meminta tambahan pasokan dari pertamina.

“Namun terkadang kami meminta pasokan lebih pun tidak selalu dikasih, karena Pertamina juga mengirim untuk SPBU lain,” ungkapnya. (wil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here