SUARATERKINI, Jakarta – Di tengah derasnya arus modernisasi, sekelompok mahasiswa LSPR Institute of Communication & Business membuktikan bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan cara yang konvensional.
Melalui program Community Development bertajuk Sorak Betawi Condet, mereka berhasil menghadirkan ruang kolaborasi yang mempertemukan generasi muda, komunitas budaya, pelaku UMKM, hingga masyarakat untuk bersama-sama menjaga warisan budaya Betawi agar tetap hidup dan relevan di era digital.
Program yang digagas mahasiswa kelas PRDC27-4SP Batch 27 ini berlangsung sejak 5 hingga 21 Juni 2026 dan merupakan implementasi kolaboratif dari empat mata kuliah, yakni Creative Production & Publicity, Public Relations Communication Technique, Community Development, serta Public Relations Program & Evaluation.
Seluruh rangkaian kegiatan dirancang mulai dari perencanaan, pelaksanaan, publikasi hingga evaluasi dengan tujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian budaya Betawi.
Rangkaian kegiatan diawali melalui pre-event bertajuk “Ngabimbing Pade-Pade di SMK PGRI 28” pada 5 Juni 2026. Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan pelatihan pembuatan konten digital, pengelolaan media sosial, hingga teknik penyuntingan video sebagai sarana memperkenalkan budaya lokal kepada generasi muda.
Menurut Dr. Alexander Mamby Aruan, M.Si., selaku Dosen Pengampu Mata Kuliah Public Relations Program & Evaluation di LSPR Institute of Communication & Business, Sorak Betawi Condet menjadi bukti nyata bahwa ilmu komunikasi dapat diterapkan secara langsung melalui program yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Community Development bukan hanya tentang menjalankan sebuah kegiatan, tetapi bagaimana mahasiswa mampu menciptakan program yang berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui Sorak Betawi Condet, mahasiswa tidak hanya belajar merancang program komunikasi, tetapi juga berkontribusi dalam upaya pelestarian budaya Betawi melalui pendekatan yang kreatif, edukatif, dan relevan dengan perkembangan zaman,” ujar Dr. Alexander.
Kegiatan kemudian berlanjut pada 6 Juni 2026 di Kelurahan Balekambang melalui kolaborasi bersama Pokdarwis Kampung Condet dalam program “Ngabimbing Pade-Pade di Kelurahan Balekambang”. Masyarakat setempat mendapatkan pelatihan pembuatan konten digital, pengelolaan media sosial, serta edukasi mengenai pemanfaatan platform digital sebagai sarana promosi budaya dan wisata lokal.
Sebagai bagian dari puncak rangkaian kegiatan, Sorak Betawi Condet menggelar Workshop Budaya Betawi pada 20 Juni 2026. Beragam kelas interaktif disuguhkan kepada peserta, mulai dari kelas Mix & Match Fashion Betawi, kelas Gambang Kromong, kelas Tari Betawi, hingga kelas pembuatan emping. Melalui pengalaman langsung tersebut, peserta diajak mengenal budaya Betawi secara lebih dekat dengan cara yang edukatif sekaligus menyenangkan.
Puncak kemeriahan berlangsung pada 21 Juni 2026 melalui Festival Budaya Betawi yang menghadirkan berbagai pertunjukan khas, seperti Palang Pintu, Lenong, Gambang Kromong, serta Tari Betawi. Festival tersebut juga dimeriahkan dengan bazar UMKM yang menampilkan aneka produk khas Betawi, sekaligus menjadi ruang pertemuan bagi pelaku budaya, masyarakat, dan generasi muda untuk merayakan kekayaan tradisi Betawi.
Dalam kesempatan yang sama, panitia juga menggelar Press Conference sebagai bentuk pelaporan dan pertanggungjawaban program kepada para mitra dan media. Kegiatan tersebut diisi dengan penyerahan hasil program serta pemberian apresiasi kepada pihak-pihak yang telah mendukung terselenggaranya Sorak Betawi Condet 2026.
Ketua Pelaksana Sorak Betawi Condet, Nailah Inayah Humaira, mengatakan bahwa seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar budaya Betawi semakin dekat dengan masyarakat dan generasi muda.
“Melalui Sorak Betawi Condet, kami ingin menunjukkan bahwa pelestarian budaya Betawi dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan yang dekat dengan masyarakat dan generasi muda. Mulai dari edukasi digital, pelatihan kreatif, hingga festival budaya, seluruh rangkaian kegiatan ini dirancang untuk membangun kesadaran bahwa budaya Betawi adalah identitas yang harus terus dijaga dan diwariskan,” katanya, Minggu (21/6).
Apresiasi juga disampaikan Ketua Pokdarwis Kampung Condet, Dicky Arfansuri, S.Pd. Menurutnya, inisiatif yang dilakukan mahasiswa LSPR membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat dikemas secara kreatif dan sesuai dengan perkembangan zaman.
“Kami sangat mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh mahasiswa LSPR melalui Sorak Betawi Condet. Program ini membuktikan bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan dengan cara yang kreatif dan relevan dengan perkembangan zaman. Kami berharap semangat untuk mencintai dan melestarikan budaya Betawi dapat terus tumbuh di kalangan generasi muda sehingga warisan budaya ini tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.
Melalui semangat kolaborasi antara dunia pendidikan, komunitas budaya, masyarakat, dan pemerintah setempat, Sorak Betawi Condet diharapkan menjadi langkah berkelanjutan dalam menjaga identitas budaya Betawi sekaligus memperkenalkannya kepada generasi masa depan melalui pendekatan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan masyarakat saat ini.


