SUARATERKINI, Jakarta – Olimpiade Barcelona 1992 menjadi momen yang tak terlupakan bagi mantan pemain tunggal putra Indonesia, Alan Budikusuma. Bagaimana tidak, ia yang saat itu tidak diunggulkan untuk menang, justru berhasil mempersembahkan medali emas bagi Indonesia dari kejuaraan tertinggi di dunia.

Raihan Alan kala itu sukses menambah kejayaan bulutangkis Indonesia di mata dunia. Karena sebelumnya, satu medali emas sudah berhasil dikantongi pemain tunggal putri, Susy Susanti, yang juga merupakan kekasih Alan.

Dikutip dari Badmintonindonesia.org, Selasa (25/2/20), Alan mengalahkan Ardy B Wiranata dengan skor 15-12, 18-13 di babak final. Ia mengaku tak menyangka bisa mengungguli rekannya tersebut. Dikatakan Alan, tak terbayang sebelumnya ia bisa merebut podium tertinggi Olimpiade.

“Sama sekali saya nggak menyangka bisa menang. Blank dan tidak ada firasat apa-apa. Yang pasti saya hanya berjalan, menyelesaikan perjalanan saya satu persatu di Olimpiade ini. Benar-benar saya tidak pernah berpikir bisa jalan sejauh itu. Setiap babak, habis menang, saya baru lihat, oh ini lawan besok. Ya sudah dihadapi lagi. Saya tidak terlalu berangan-angan dan itu mungkin yang membuat saya jadi lebih tenang. Jadi step by step saja, dan tidak pernah meremehkan lawan,” cerita Alan kepada Badmintonindinesia.org.

Dikisahkan Alan, sejak bulutangkis akhirnya dipertandingankan pada Olimpiade untuk yang pertama kali, para atlet mulai bersaing dengan ketat. Ia pun bertekad untuk bisa tampil membawa nama Indonesia di Barcelona. Kualifikasi Olimpiade Barcelona saat itu berlangsung selama satu tahun, sejak Mei 1991.

Sebanyak lima atlet tunggal putra diproyeksikan untuk ambil bagian, mereka adalah Alan Budikusuma, Joko Suprianto, Ardy B Wiranata, Hermawan Susanto dan Haryanto Arbi.

“Pada saat sudah ditunjuk bulutangkis masuk Olimpiade, tentunya sangat luar biasa. Persaingan mulai terasa. Mungkin kalau turnamen perorangan yang lain seperti All England dan Open-Open yang lain kan bisa satu tahun sekali. Tapi kalau Olimpiade ini merupakan turnamen terbesar di seluruh cabang olahraga, istilahnya di seluruh jagat ini kalau turnamen ya puncaknya pasti di Olimpiade. Jadi setiap atlet tentunya ingin ikut. Kualifikasi memang terasa berat,” ungkap Alan.

“Kami yang lima itu bersaing bebas menuju Olimpiade dalam waktu satu tahun itu. Tepatnya bulan Mei 1991. Dan pada saat itu kalau dalam delapan besar masuk rangking dunia, bisa tiga pemain ikut (Olimpiade). Tapi kalau tidak delapan besar hanya mengirim dua. Akhirnya saat itu yang lolos ada tiga, saya, Ardy dan Hermawan,” tuturnya.

Alan menceritakan perjalanannya menuju Olimpiade tidaklah mudah. Setelah terpilih menjadi wakil Indonesia di Barcelona, penampilan Alan justru mengalami penurunan.  Pada bulan Mei 1992, Alan yang diharapkan mampu mencuri kemenangan di Piala Thomas, tak bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Grafik penampilannya pun terus menurun tajam. Padahal pertandingan Olimpiade akan berlangsung dalam dua bulan kedepan. Alan mengaku cukup stress dengan kondisinya saat itu.

“Memang waktu bulan Mei 1992 keadaan saya kurang baik. Performa saya berada di titik paling bawah, jadi itu yang membuat saya cukup syok, kok begini ya. Padahal Olimpiade sudah dekat. Di Thomas Cup Indonesia kalah dari Malaysia. Saya yang saat itu diharapkan menyumbang poin, malah kalah. Saya sampai hari ini juga masih bingung, kenapa penampilan saya saat itu bisa sejelek itu. Ada yang cerita mungkin itu ada hal-hal non teknis, tapi saya pikir kalah ya kalah. Kepercayaan diri saya menurun terus, padahal Olimpiade tinggal dua bulan,” ujar Alan.

Di tengah krisis kepercayaan diri yang dialaminya, Alan mendapat dukungan dari Susy dan juga pelatihnya. Hal tersebut membuat Alan secara perlahan mampi bangkit dan berusaha memperbaiki penampilannya.

“Peran Susy, nomor satu adalah kepercayaan diri. Susy meyakinkan saya, kalau saya bisa mengembalikan performa dalam dua bulan. Dan bilang kalau kekalahan bukanlah akhir dari segalanya. Dengan kalah di pertandingan sebelumnya, apa di Olimpiade pasti kalah? Kan belum tentu, karena pertandingan kan belum dimulai. Yang pasti adalah bagaimana kita bisa menganalisa kekalahan dengan baik, dan bagaimana berlatih untuk lebih baik dari sebelumnya. Jadi peran Susy sangat besar buat saya,” jelas Alan.

“Saya waktu itu sempat down, selama satu minggu saya pusing. Saya sudah latihan seperti biasanya, semua instruksi pelatih sudah saya jalankan, tapi kok saya mainnya seperti itu, saya juga bingung. Akhirnya Susy bilang, ya sudah kamu latihan saja, sambil pelan-pelan kita koreksi secara bertahap,” ungkap Alan.

Selain itu, untuk mengembalikan performanya, Alan memutuskan untuk melakukan latihan tambahan di luar jadwal. Setiap hari ia fokus meningkatkan kemampuan secara teknis dan kepercayaan diri di lapangan.

“Saya merasa itu yang membantu saya tampil lebih baik lagi. Dulu berbeda dengan di Pelatnas Cipayung saat ini. Kami latihan di Senayan, begitu selesai latihan kan lapangannya disewakan ke orang, jadi nggak bisa bebas pakai lapangan, latihan seenaknya. Jadi kalau perlu tambahan apa-apa, saya latihan di luar menyewa lapangan sendiri. Memang saya rasa persiapan Olimpiade waktu itu adalah yang paling the best. Saya merasa sebelum berangkat akhirnya bisa betul-betul yakin. Dari ketidakyakinan, dengan persiapan yang saya rasa mencapai 99 persen, akhirnya saya bisa maksimal dan yakin. Dari segi teknik, fisik dan kepercayaan diri,” kata Alan.

Perjuangan Alan akhirnya berbuah manis. Tampil sebagai pemain yang tidak diunggulkan, Alan justru sukses bermain tanpa beban. Sebab seluruh harapan untuk mendulang medali, saat itu terbeban pada Ardy.

“Secara bertanding dikarenakan saya tidak diunggulkan, tekanannya tentu berbeda. Semua pelatih saat itu berharapnya pada teman saya, Ardy. Tekanan lebih besar adanya di Ardy. Jadi saya, ya sudahlah, asal ikut saja, main tanpa beban. Karena yang saya lihat juga perhatiannya agak berbeda. Ya nggak apa-apa, karena saya juga sadar saat itu penampilan saya sedang tidak bagus. Buat saya nggak apa-apa, karena kan jadi tidak terlalu ada tekanan. Itu kan kadang juga menjadi beban, dan untuk melepaskan hal itu rasanya tidak mudah. Apalagi Olimpiade, semuanya campur aduk, nggak bisa makan, nggak bisa tidur, banyak sekali yang muter-muter terus di kepala,” ungkap Alan lagi.

“Kan di dalam lapangan prioritas kan lebih ke Ardy, karena memang posisi Ardy saat itu lebih diunggulkan, jadi saya paham. Tapi dengan adanya Susy, jadi semacam ada pegangan buat saya. Susy pun sama, dia juga ada pegangan dari saya, karena dia ada pressure yang sangat luar biasa. Jadi saya merasa dengan adanya saling mendukung ini merupakan hal yang luar biasa. Yang pasti saat final, begitu tahu Susy menang itu saya mainnya jadi nggak ada beban. Karena di final toh saya menang atau kalah, yang menang Indonesia. Saya lebih nothing to lose. Saya bermain lebih tenang dan menguasai pertandingan. Saya rasa semua keputusan saya pas, feelingnya juga enak,” cerita Alan panjang lebar.

Setelah menjadi juara di Olimpiade, Alan mengaku kepercayaan dirinya meningkat. Sebab target utamanya sebagai atlet telah ia penuhi. Ia pun mendapat pengalaman berharga, bagaimana mengatasi permasalahan di lapangan dalam tekanan yang cukup tinggi. Namun Alan mengaku tak ingin jumawa. Sebab baginya, title juara hanya bagian dalam sejarah hidupnya. Bukan suatu hal istimewa yang harus ia terus banggakan.

“Setelah juara saat itu, saya jadi tahu gitu, di lapangan dengan masalah tertentu, saya jadi tahu solusinya. Walaupun pada akhirnya, karena masalah tenaga juga, kalau lawan yang lebih muda rubber game kalah, jadi saya pikir wah ini sudah tua. Sudah saatnya saya berhenti.  Tahun 1996 saya ikut Olimpiade lagi, tapi saya kalah di quarter final dari juaranya, Poul Erick. Saat itu dia mainnya luar biasa, dan memang pantas dia menjadi juara. Saya ingat banget pelatih saya bilang, inget ya Lan ya, elu juara pas naik podium, begitu turun elu bukan juara lagi, elu turun jadi orang biasa. Supaya beban itu nggak saya bawa terus, dan itu yang membuat saya tetap mawas diri,” tutur Alan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here