SUARATERKINI, Jakarta – Di era pandemi seperti saat ini banyak sektor usaha terkena dampaknya sehinga kondisi ketidakpastian yang masih terjadi.

Akhirnya para pelaku ekonomi khususnya investor berbondong-bondong melakukan penyelamatan dan perlindungan aset (hedging) atas investasinya.

Hal tersebut dikatakan Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Enny Sri Hartati dalam diskusi virtual dengan tema Membidik Instrumen Investasi yang Cocok di Era New Normal, Rabu (26/8).

Guncangan ekonomi yang terjadi akibat wabah tersebut, membuat investor harus memilih instrumen yang aman untuk penempatan dananya demi mengurangi risiko yang lebih besar. Emas adalah pilihan utama,” ungkapnya.

Enny menegaskan, bahwa saat pandemic global saat ini ekonomi Amerika juga sedang terkontraksi sangat dalam sehingga dolar tidak lagi menjadi lirikan para investor.

Kalau sebelum pandemic aja nilai emas nilainya stabil, artinya nilai dari emas tidak banyak tergerus untuk kondisi normal,” imbuhnya.

Hal senada dikatakan Vice President Kantor Wilayah (Kanwil) VIII Jakarta 1 PT Pegadaian (Persero), Rudy Kurniawan, membenarkan bahwa investasi emas menjadi pilihan yang tepat di saat kondisi pandemi. Pasalnya tren harga emas terus mengalami kenaikan.

Pada tahun 2019 harga emas dalam satuan rupiah tumbuh 14,5 persen dari Rp. 625.000 menjadi Rp. 716.000 per gram. Kemudian pada semester I 2020, harga emas meningkat 16 persen dari Rp. 717.000 menjadi Rp. 832.000 per gram,” paparnya.

Ditegaskan Rudy, untuk beralih investasi emas, masyarakat tidak perlu menunggu saat memiliki uang lebih. Dengan berbagai kemudahan dan murahnya pemesanan emas khususnya yang melalui Galeri 24 yang merupakan anak usaha dari PT Pegadaian (Persero), masyarakat bisa memiliki tabungan emas dengan nominal pembelian yang kecil.

Bahkan Pegadaian juga menawarkan layanan pembelian emas masa depan dengan harga saat ini,” ucapnya.

Sementara Wealth Advisory Head Bank OCBC NISP, Stephanie M Kristanto, mengatakan di tengah situasi ekonomi yang sulit ini diperlukan perencanaan keuangan seperti mengalokasi pos belanja 30 persen dari pendapatan perlu dialokasikan untuk dana darurat. Kemudian 20 persen untuk amal, 20 persen untuk investasi dan sisanya untuk kebutuhan dan juga pembayaran cicilan.

Tak heran bila Bank OCBC NISP meluncurkan program #Save20, yaitu sebuah layanan menabung atau investasi sebesar Rp20.000 per hari. “Gerakan ini akan sangat tepat dilakukan oleh kaum milenial yang memiliki pendapatan tetap dalam setiap bulannya sehingga di masa depan ada dana yang bisa dimanfaatkan lebih,” ucap Stephanie.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here