SUARATERKINI, Tanjungpandan – Dalam mempersiapkan Kabupaten Belitung yang akan menjadi tuan rumah pertemuan Menteri Pembangunan Negara-Negara G20 pada September mendatang, Pemerintah Kabupaten Belitung mengharapkan partisipasi masyarakat Belitung.

“Pemerintah Belitung menyadari masih banyak kekurangan, oleh karena itu dalam hal ini mengajak Pentahelix Pariwisata yaitu kolaborasi 5 (Lima Unsur) unsur subjek atau stakeholder pariwisata, yaitu: Academician (Akademisi), Business (Bisnis), Community (Komunitas), Government (Pemerintah) dan Media (Publikasi Media),” ujar Sekretaris Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung, Annyta, dalam diskusi bersama Centrum Arete Institute, di Hotel Billiton, Jumat (21/1) malam.

Menurutnya, dengan diakuinya geopark Belitong oleh dunia, membuktikan bahwa Belitung mumpuni dan banyak potensi.

“Oleh karena itu, kita harus optimis bahwa Belitung mampu memenuhi berbagai persyaratan digelarnya acara tersebut dan dapat menggelar pertemuan tersebut dengan lancar,” katanya.

Ia menuturkan, bahwa sebelumnya belum ada nama Belitung di rangkaian pertemuan G20, tapi pihakya mengupayakan dan berkolaborasi dengan semua pihak, termasuk Bappenas.

Walaupun masih ada covid dengan varian omicron tapi kita tetap harus optimis. Jika tidak dicoba kita tidak akan belajar.

“Pemda tidak sendiri, banyak pihak membantu. Contohnya Pertamedika yang akan menyediakan ruangan gawat darurat exclusive di venue acara, serta ambulance helikopter dan dokter spesialis,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Belitung, M. Harfian Fajar mengatakan terkait persiapan G20, Belitung harus dipercantik.

“Terakhir ada penataan kota tanjungpandan itu jaman Bupatinya Darmansyah Husein, hampir 10 tahun lalu, percantiklah pantai Tanjung pendam, susguhkan tari-tarian dan budaya Melayu Belitung bukan hanya kepada pejabat tapi kepada seluruh wisatawan, bukan hanya kepada tamu G20,” tegasnya.

Direktur Centrum Arete Institute, Dr. Syaifuddin Al Mughniy menambahkan terkait G20, Belitung bisa belajar dari Makassar dan Bali. Dimana Makassar tidak punya pantai yang bagus selain Losari, tapi yang ditonjolkan hal lainnya. Sementara di Bali, tamu baru turun dari pesawat sudah disuguhkan tarian dan budaya Bali.

“Di Belitung, kita bisa menawarkan penampilan masyarakat melayu Belitung yang religius, jadi bukan hanya pantainya yang indah,” ujarnya. (wil)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here