Desa Wisata Ciderum Tumbuh sebagai Wisata Edukasi Lingkungan

AdvertisementAds

SUARATERKINI, Bogor – Berawal dari kepedulian terhadap persoalan sampah, Desa Ciderum di Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, kini tumbuh menjadi destinasi wisata edukasi berbasis lingkungan yang menginspirasi banyak daerah. Desa Wisata Ciderum membuktikan bahwa perubahan besar dapat lahir dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten dan bergotong royong.

Berlokasi di Kampung Batu Kembar RT 01 RW 07, Desa Ciderum, desa wisata ini menawarkan perpaduan wisata rekreasi dan edukasi yang cocok untuk keluarga, pelajar, hingga komunitas. Bento selaku Pendiri Desa Wisata Ciderum, mengatakan bahwa konsep utama desa wisata ini adalah menghadirkan pengalaman berwisata yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga sarat pembelajaran lingkungan.

“Di sini kami punya berbagai wahana, mulai dari wisata memancing, mengambil belut, susur kampung, panahan, camping ground, hingga wisata air seperti tubing di sungai,” ucap Bento kepada suaraterkini.com, Rabu (31/12).

Selain wisata rekreasi, Desa Wisata Ciderum dikenal kuat dengan wisata edukasinya. Pengunjung diajak terlibat langsung dalam berbagai aktivitas, seperti pengolahan sampah berbasis kemasyarakatan, pembuatan eco enzyme, hingga kegiatan pertanian dan peternakan.

BACA JUGA:  PSMT Universitas Diponegoro Juarai Busan Choral Festival & Competition 2022

“Pengunjung bisa belajar membuat eco enzyme yang bermanfaat untuk kebutuhan rumah tangga, membuat makanan tradisional leupeut yang bisa dibawa pulang, memberi pakan ternak, hingga mengolah sampah menjadi kerajinan tangan,” jelas Bento.

Desa Wisata Ciderum juga mengembangkan konsep ekonomi sirkular, di mana pelestarian lingkungan berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi produktif masyarakat. Salah satu praktik unggulannya adalah budidaya domba Garut melalui Sicabar Farm, yang memberikan nilai ekonomi sekaligus mendukung keberlanjutan ekosistem desa.

Bento juga menuturkan bahwa desa wisata ini bermula dari tempat pengolahan sampah sederhana. Warga diajak memilah sampah organik dan anorganik, lalu mengolahnya secara berkelanjutan.

“Sampah organik kami olah menjadi kompos dan pakan maggot. Dari yang awalnya hanya lima ekor maggot, kini berkembang pesat dan menjadi bagian penting dari sistem pengelolaan limbah desa,” ungkapnya.

Inovasi lainnya adalah pembuatan pestisida nabati dari puntung rokok serta eco enzyme berbahan pala, air, dan gula merah. Bahkan, Desa Wisata Ciderum berhasil mengembangkan Batabu Eco Bridge, bata ramah lingkungan dari abu hasil pembakaran sampah, yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

BACA JUGA:  Tingkatkan Jaminan Sosial Masyarakat Belitung, Bupati Teken MoU dengan BPJS Ketenagakerjaan

“Setiap lingkungan memiliki potensi yang bisa dikembangkan. Dengan gotong royong, potensi tersebut dapat diolah menjadi peluang besar yang membawa manfaat bersama,” tutur Bento.

Sebagai destinasi wisata edukatif, Desa Wisata Ciderum dilengkapi berbagai fasilitas penunjang, seperti kafe bernuansa alam (Cafe Sicabar), spot foto tematik seperti Dapur Pawon, mushola, aula, gazebo, taman edukasi, galeri kerajinan daur ulang, hingga area pertanian dan persawahan.

Perjalanan desa wisata ini tidak selalu mulus. Minimnya dukungan dan antusiasme masyarakat di awal pembentukan menjadi tantangan tersendiri. Namun, seiring berjalannya waktu dan terjalinnya komunikasi dengan berbagai dinas terkait, Desa Wisata Ciderum kini resmi mengantongi SK Bupati dan masuk dalam 10 besar desa wisata di Kabupaten Bogor.

Mayoritas pengunjung Desa Wisata Ciderum berasal dari sekolah, perguruan tinggi, hingga komunitas yang ingin belajar langsung tentang pengelolaan sampah, peternakan domba, pertanian, dan ketahanan pangan.

“Tempat wisata yang tidak hanya menyuguhkan keindahan alam, tetapi juga edukasi tentang pengolahan sampah, ternak domba, dan menanam. Lengkap,” ujar Moml salah satu pengunjung.

BACA JUGA:  Ridwan Kamil Luncurkan Sentra Vaksinasi Silih Tulungan

Kini, Desa Wisata Ciderum tak sekadar menjadi tujuan wisata, tetapi juga simbol edukasi lingkungan, kemandirian desa, dan harapan akan masa depan yang berkelanjutan. Dari desa, lahir inspirasi untuk Indonesia yang lebih peduli terhadap lingkungan.