SUARATERKINI, Jakarta – Sakit kepala kerap dianggap sebagai keluhan biasa yang cukup diatasi dengan istirahat atau obat pereda nyeri. Padahal, ketika nyeri muncul secara tiba-tiba, terasa sangat hebat, berubah dari pola biasanya, atau disertai gangguan neurologis, sakit kepala dapat menjadi sinyal adanya masalah serius pada otak yang membutuhkan penanganan medis segera.
Dokter Spesialis Bedah Saraf Primaya Hospital Depok, dr. Muhammad Kusdiansah, Sp.BS, FMV, mengatakan sakit kepala secara umum terbagi menjadi dua kelompok, yakni sakit kepala primer dan sekunder.
“Sakit kepala pada dasarnya merupakan alarm alami tubuh. Sebagian besar memang bukan kondisi yang berbahaya, tetapi ketika sakit kepala memiliki pola atau gejala yang tidak biasa, kita perlu lebih waspada karena bisa menjadi tanda adanya masalah struktural atau neurologis pada otak,” ujar dr. Kus beberapa hari lalu.
Ia menjelaskan, sakit kepala primer seperti migrain, tension-type headache, dan cluster headache umumnya berasal dari mekanisme sakit kepala itu sendiri. Migrain, misalnya, biasanya ditandai nyeri berdenyut yang dapat terjadi pada satu sisi kepala dan disertai mual serta sensitif terhadap cahaya atau suara.
Sementara tension-type headache umumnya terasa seperti tekanan atau kepala terikat. Adapun cluster headache dapat menyebabkan nyeri sangat berat di sekitar atau belakang salah satu mata, yang dapat disertai mata merah atau hidung tersumbat.
Berbeda dengan sakit kepala primer, sakit kepala sekunder merupakan gejala yang muncul akibat kondisi medis lain. Penyebabnya dapat berupa trauma kepala, tumor, aneurisma, infeksi, perdarahan otak, hingga gangguan pembuluh darah.
Menurut dr. Kus, salah satu tantangan dalam mengenali sakit kepala serius adalah gejalanya terkadang menyerupai keluhan yang lazim dialami sehari-hari. Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan perubahan karakter sakit kepala, bukan sekadar seberapa sering keluhan tersebut muncul.
Dokter menggunakan sejumlah tanda bahaya atau red flags untuk membantu menilai kemungkinan sakit kepala sekunder. Salah satu pendekatan yang dikenal adalah SNNOOP10, yang mencakup berbagai kondisi yang perlu mendapatkan perhatian lebih.
Beberapa di antaranya adalah gejala sistemik seperti demam, riwayat kanker, gangguan neurologis berupa kelemahan anggota tubuh, kejang atau penurunan kesadaran, serta sakit kepala yang muncul secara mendadak dan sangat hebat.
Sakit kepala baru yang muncul pada usia lebih tua, terutama di atas 65 tahun, perubahan pola atau nyeri yang semakin memburuk, serta sakit kepala yang dipengaruhi posisi tubuh juga perlu diperiksa.
Begitu pula sakit kepala yang dipicu batuk, bersin, mengejan atau aktivitas fisik. Tanda bahaya lainnya meliputi pembengkakan saraf optik, pola nyeri yang progresif atau tidak biasa, kehamilan atau masa nifas, nyeri mata tertentu, sakit kepala setelah trauma kepala, gangguan sistem imun atau HIV, serta penggunaan obat pereda nyeri secara berlebihan.
“Jangan hanya melihat seberapa sering sakit kepala terjadi. Perubahan pola, intensitas, waktu muncul, serta gejala yang menyertai justru menjadi informasi penting bagi dokter. Sakit kepala yang tiba-tiba sangat hebat, disertai kelemahan, gangguan penglihatan, kejang, atau penurunan kesadaran merupakan kondisi yang tidak sebaiknya ditunggu,” jelasnya.
Pada kondisi tertentu, sakit kepala dapat menjadi bagian dari kegawatdaruratan bedah saraf. Beberapa kondisi yang dapat membutuhkan tindakan segera antara lain perdarahan subaraknoid akibat pecahnya aneurisma otak, hematoma akibat trauma kepala, hidrosefalus akut, serta apopleksi pituitari.
Selain itu, sakit kepala sekunder juga dapat disebabkan oleh infeksi sistem saraf pusat, stroke, tumor otak, abses, hingga hematoma subdural.
Karena penyebabnya beragam, pemeriksaan pada setiap pasien tidak dapat disamaratakan. Evaluasi biasanya diawali dengan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Jika ditemukan tanda bahaya, dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan pencitraan sesuai kondisi pasien.
Dalam situasi gawat darurat, CT scan kepala dapat digunakan untuk membantu mendeteksi perdarahan akut maupun fraktur tengkorak. Sementara itu, MRI otak dan pemeriksaan angiografi dapat memberikan gambaran lebih detail mengenai jaringan otak dan pembuluh darah sesuai indikasi medis.
Perkembangan teknologi di bidang bedah saraf juga turut mendukung penanganan berbagai kondisi tersebut. Teknologi seperti neuronavigasi, mikroskop dan endoskopi, tindakan endovaskular, hingga Gamma Knife dapat digunakan pada kondisi tertentu untuk membantu meningkatkan presisi tindakan dan mendukung proses pemulihan pasien.
“Yang terpenting bukan takut terhadap sakit kepala, tetapi memahami kapan sakit kepala perlu diperiksa. Dengan mengenali tanda bahaya dan mendapatkan diagnosis yang tepat, pasien dapat memperoleh penanganan sesuai penyebabnya sedini mungkin,” tutur dr. Kus.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak menunda mencari pertolongan medis apabila mengalami sakit kepala yang sangat tiba-tiba dan hebat, kelemahan anggota tubuh, gangguan penglihatan, kejang, penurunan kesadaran, demam tinggi, atau pola sakit kepala yang semakin progresif.
“Jangan pernah meremehkan sakit kepala. Deteksi yang tepat dan penanganan yang cepat dapat menjadi langkah penting untuk mencegah kondisi yang lebih serius dan mempertahankan kualitas hidup pasien,” pungkas dr. Kus.


