SUARATERKINI, Jakarta – Stroke, kini menjadi penyebab kematian dan kecacatan tertinggi di Indonesia. Data WHO tahun 2020 menunjukkan angka yang mencengangkan, lebih dari 357 ribu kematian per tahun atau sekitar 21% dari total kematian nasional disebabkan oleh stroke.
Indonesia berada di peringkat ke-11 dunia dalam hal tingkat kematian akibat stroke, dengan angka mencapai 178,3 per 100.000 penduduk (disesuaikan dengan usia). Hal ini menjadi alarm bagi masyarakat untuk lebih waspada dan proaktif dalam menghadapi ancaman stroke.
Primaya Hospital, sebagai salah satu rumah sakit terkemuka, menyerukan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengenali gejala dini stroke. Dr. Riski Amanda, Sp.N, FINA, Spesialis Neurologi Neurointervensi di Primaya Hospital PGI Cikini, menekankan pentingnya “golden period” atau masa krusial di bawah 4,5 jam sejak gejala pertama muncul.
“Jika pasien tiba di rumah sakit dalam rentang waktu ini, peluang untuk pulih tanpa kecacatan meningkat secara signifikan. Stroke merupakan penyebab kecacatan nomor satu, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia,” ujarnya dalam keterangan resminya, Kamis (27/11).
Seringkali, gejala awal stroke diabaikan karena dianggap sebagai kelelahan biasa. Padahal, setiap menit yang terbuang berarti hilangnya jutaan sel otak. Masyarakat dihimbau untuk mewaspadai gejala berikut:
F (Face): Wajah terlihat tidak simetris, salah satu sisi terkulai.
A (Arms): Sulit mengangkat atau merasa lemas pada salah satu lengan.
S (Speech): Kesulitan berbicara atau bicara tidak jelas.
T (Time): Segera hubungi layanan darurat atau rumah sakit jika ada tanda-tanda di atas.
Stroke dapat disebabkan oleh faktor yang tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga. Namun, sebagian besar faktor risiko dapat dikendalikan, di antaranya: Tekanan Darah Tinggi (Hipertensi), Kadar Kolesterol Tinggi, Kebiasaan Merokok, Diabetes, Penyakit Jantung (terutama Fibrilasi Atrium), Obesitas, Kurang Aktivitas Fisik, Pola Makan Tidak Sehat dan Penyalahgunaan Alkohol.
“Stroke bukan takdir, tapi akibat dari kebiasaan yang bisa diubah,” jelas dr. Riski. Pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun, sangat penting untuk mendeteksi risiko sejak dini.
Upaya pencegahan stroke meliputi: Mengontrol Tekanan Darah, Menerapkan Pola Makan Sehat, Aktif Bergerak/Berolahraga, Menghindari Merokok dan Konsumsi Alkohol Berlebihan.
Bagi pasien yang selamat dari serangan stroke, proses pemulihan membutuhkan dukungan komprehensif. Rehabilitasi seperti fisioterapi, terapi okupasi, dan terapi wicara, sangat penting untuk memulihkan fungsi tubuh, kemandirian, dan kepercayaan diri pasien.
Stroke adalah “silent killer” yang datang tiba-tiba, namun bukan berarti tidak dapat dicegah. Dengan mengenali gejala dini, mengendalikan faktor risiko, dan menerapkan gaya hidup sehat, kita dapat mengurangi risiko terkena stroke. Ingat, setiap detik berharga. Segera bertindak jika Anda atau orang di sekitar Anda mengalami gejala FAST. Jangan menunggu lumpuh, segera cari pertolongan medis!


