Akademisi ITS Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik di Indonesia

ITS

Jakarta, 25 Maret 2024 – Pemerintah Indonesia melalui ENTREV terus mendorong transisi energi di Indonesia melalui ekosistem Electric Vehicle (EV).

Kolaborasi bersama pemerintah dan dunia akademisi kian memperkuat dan menghubungkan beberapa aspek yang menjadi penunjang ekosistem EV, mulai dari baterai, SPKLU, SPBKLU, peningkatan kualitas dan layanan, serta menetapkan regulasi pemakain EV di tanah air.

Manager PUI SKO – STP Otomotif ITS, Bambang Sudarmanta menuturkan, dalam rangka mengembangkan ekosistem EV, berbagai research collaboration antara akademisi nasional maupun internasional sudah dilakukan untuk mengembangkan kendaraan listrik.

“Kita sudah berkolaborasi, bahkan dengan industri juga kita berkolaborasi. Dimana kendaraan listrik tidak hanya on road bahkan bisa untuk off road, bahkan kendaraan roda tiga sudah disiapkan untuk menunjang ekosistem EV di Indonesia,” tutur Bambang.

Sementara itu, National Project Manager ENTREV Eko Aji Buwono menjelaskan dalam hal ini bersama pemerintah terus mendukung transisi mobilitas listrik dan memberikan model bisnis yang inovatif di sektor transportasi yang akan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca.

BACA JUGA:  Kemenperin Dukung Skuter Listrik Konversi Buatan IKM Laris di Pasar Eropa

“Dalam pertumbuhan nilai kendaraan listrik, pertumbuhan industri juga sangat berpengaruh. Maka dari itu, kolaborasi seluruh pihak dalam mengembangkan bagian – bagian yang dapat menunjang ekosistem EV,” kata Eko.

Eko juga menjelaskan, efek dari manufaktur juga sangat berpengaruh dalam berkembangnya ekosistem di EV ini. Dimana mobil serta motor listrik juga harus memiliki kualitas yang bagus dan terbaik, sehingga dapat digunakan dan semakin diminati oleh masyarakat.

Hal tersebut dipastikan Ronggo Anugrah, tim humas Gatrik yang melakukan perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya dengan kendaraan listrik. Ia menuturkan perbandingan harga bahan bakar yang sangat jauh dengan kendaraan konvensional lainnya.

“Kalau mobil biasa hampir 800 ribu, namun menggunakan mobil listrik hanya 295 ribu saja,” kata Ronggo.

Ia juga menyampaikan, dengan adanya SPKLU yang sudah memiliki 200 Kwh di rest area ini semakin memudahkan pengguna kendaraan listrik untuk charge kendaraannya dan tidak memakan waktu yang terlalu lama.

redaksi.suaraterkini@gmail.com