KIROC Jadi Ajang Roaster Lokal Asah Keterampilan dan Perluas Pasar Kopi

AdvertisementAds

SUARATERKINI, Tangerang – Di balik secangkir kopi berkualitas, ada proses panjang yang menentukan cita rasa dan karakter setiap seduhannya. Salah satu tahapan krusial adalah roasting atau penyangraian biji kopi.

Untuk mendorong lahirnya roaster lokal yang semakin kompeten, KRISTA InterFOOD 2026 menghadirkan kompetisi roasting yang menjadi ajang unjuk kemampuan sekaligus mengasah konsistensi para pelaku industri kopi Tanah Air.

Melalui KRISTA InterFOOD Roasting Competition (KIROC), para roaster dari berbagai daerah mendapat kesempatan untuk menguji keterampilan, memperluas pengalaman, serta meningkatkan kemampuan dalam menghasilkan kopi sangrai berkualitas.

Head Crew KIROC, Rahmat Indra, mengatakan kompetisi ini tidak sekadar menguji kemampuan peserta dalam mengoperasikan mesin roasting. Lebih dari itu, seorang roaster dituntut memahami karakteristik biji kopi yang akan diolah, mulai dari varietas, daerah asal atau origin, hingga karakter mesin yang digunakan.

Menurut Rahmat, pemahaman terhadap bahan baku menjadi dasar penting sebelum peserta menentukan profil sangrai. Setelah itu, mereka harus menyusun perencanaan penyangraian atau roasting plan sebagai pedoman dalam menjalankan proses roasting.

Hasil akhir kemudian dievaluasi berdasarkan kesesuaian antara rencana yang telah dibuat dengan hasil penyangraian.

“Yang dinilai itu yang jelas hasil dari roasting, disamakan dengan perencanaan atau roasting plan,” ucap Rahmat, Kamis (5/11).

BACA JUGA:  Wedding Gathering Aston Serang Jembatani Pelaku Industri Pernikahan Serang & Cilegon

Dalam kompetisi tersebut, penyelenggara menyediakan biji kopi dari lima origin atau daerah asal. Bahan baku yang digunakan mencakup kopi Arabika dari sejumlah daerah di Jawa Barat, serta kopi Robusta dari Temanggung, Jawa Tengah, dan Pagar Alam, Sumatera Selatan.

Rahmat menilai proses roasting memiliki kontribusi penting dalam menentukan kualitas kopi sebelum sampai ke tangan konsumen. Ia memperkirakan tahapan tersebut menyumbang sekitar 30 persen dari keseluruhan proses hingga kopi siap dinikmati.

Karena itu, kemampuan mengendalikan proses penyangraian menjadi salah satu kompetensi yang perlu terus diasah oleh para roaster, terutama di tengah berkembangnya industri kopi dan meningkatnya tuntutan konsumen terhadap kualitas produk.

Pentingnya kompetisi sebagai sarana meningkatkan kemampuan juga dirasakan Reza Pradipta, peserta KIROC dari Sabn Coffee Roasters, Surabaya. Ia mengaku mengikuti ajang tersebut untuk mengasah keterampilan sekaligus mendapatkan pengalaman baru.

Kesempatan tampil di KIROC diperolehnya setelah mendapatkan golden ticket dari kompetisi roasting yang sebelumnya digelar di Yogyakarta.

Reza mulai menekuni dunia roasting sejak 2022. Untuk memperdalam kemampuannya, ia banyak belajar dari sesama pegiat kopi lokal serta mengikuti kelas roasting di Bandung dan Bali.

Menurutnya, salah satu manfaat terbesar mengikuti KIROC adalah kesempatan melatih konsistensi dalam menghasilkan kopi sangrai. Apalagi, kompetisi memiliki ketentuan waktu dan *timing* yang harus dipatuhi setiap peserta.

BACA JUGA:  Rayakan HUT ke-5, realme Bakal Gelar Fan Festival dan Meluncurkan realme 11

“Skill meningkatnya untuk menjaga konsistensi sebenarnya. Dari peraturan yang ditetapkan untuk waktunya harus sekian, harus sama, timing-nya harus sama, itu kan bisa untuk meningkatkan konsistensi saya untuk merosting kopi,” ungkap Reza.

Menariknya, aktivitas roasting yang awalnya dijalani sebagai hobi kini berkembang menjadi bagian dari bisnis yang digelutinya. Selain mengelola kedai kopi, Reza juga menjalankan usaha penjualan biji kopi hasil sangrai untuk memasok kebutuhan sejumlah kedai kopi lainnya.

Ia melihat bisnis roasting memiliki peluang pasar yang cukup menjanjikan, terutama jika pelaku usaha tidak hanya mengandalkan kebutuhan kedai sendiri, tetapi juga mampu menjangkau pelaku usaha kopi lain.

Saat ini, Reza memperkirakan penjualan kopi sangrai yang dikelolanya mencapai 800 kilogram hingga satu ton per bulan. Pemasarannya masih terkonsentrasi di wilayah Jawa Timur, seperti Surabaya, Sidoarjo, Kediri, Tulungagung, Madiun, dan Magetan.

Meski demikian, perjalanan bisnis mikro-roastery tidak selalu berjalan mulus. Salah satu tantangan yang dihadapinya adalah ketersediaan green beans atau biji kopi mentah sebagai bahan baku utama.

Keterbatasan stok terkadang menjadi kendala, terutama ketika jenis biji kopi yang dibutuhkan sedang sulit diperoleh. Situasi tersebut cukup berpengaruh bagi pelaku usaha mikro-roastery yang umumnya tidak mengambil bahan baku dalam jumlah besar.

BACA JUGA:  Kolaborasi Bank dan Asuransi Bersama Habitat Indonesia Bangun Rumah Layak Huni

Di sisi lain, Reza mengakui persaingan dalam kompetisi roasting cukup menantang, khususnya ketika harus berhadapan dengan peserta dari Jakarta yang telah memiliki pengalaman dan menekuni dunia roasting secara profesional.

Meski begitu, ia berharap keikutsertaannya dalam KIROC dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan Sabn Coffee Roasters kepada pasar yang lebih luas. Ia ingin produk kopi sangrainya semakin dikenal, khususnya di Surabaya dan sekitarnya, sekaligus mendapatkan kepercayaan lebih besar dari konsumen.

Sementara itu, Rahmat berharap kompetisi roasting seperti KIROC semakin banyak diselenggarakan di Indonesia. Kehadiran berbagai ajang kompetisi dinilai dapat membuka ruang pembelajaran dan meningkatkan standar kemampuan para roaster lokal.

Dengan semakin banyaknya kesempatan berkompetisi, para roaster Indonesia diharapkan mampu mengembangkan keterampilan dan mempersiapkan diri untuk tampil di tingkat nasional maupun internasional.

Tidak hanya meningkatkan kompetensi individu, kompetisi tersebut juga diharapkan menjadi sarana memperkenalkan karakter dan potensi kopi dari berbagai daerah di Indonesia.

Dengan demikian, pengembangan kualitas roasting dapat berjalan beriringan dengan upaya memperkuat daya saing kopi Nusantara, sekaligus membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha lokal dalam industri kopi yang terus berkembang.