Kemenperin Perkuat IKM Pangan, Produk Lokal Masuk Industri Besar

AdvertisementAds

SUARATERKINI, Jakarta – Melimpahnya potensi bahan pangan lokal belum sepenuhnya diimbangi kemampuan industri kecil dan menengah (IKM) dalam mengolahnya menjadi produk bernilai tambah dan siap digunakan industri besar.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong IKM pangan mengembangkan produk intermediate atau bahan baku olahan agar mampu masuk ke dalam rantai pasok industri besar.

Langkah ini menjadi salah satu fokus program pengembangan IKM pangan 2026. Selain meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, upaya tersebut diharapkan membuka peluang kemitraan yang lebih luas antara pelaku IKM dengan perusahaan besar, termasuk sektor restoran, katering, dan industri makanan minuman.

Ketua Tim Kerja Pengembangan IKM Makanan Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) Kemenperin, Indra Akbar Dilana, mengatakan terdapat sejumlah aspek yang harus diperkuat pelaku IKM sebelum mampu menjadi mitra pemasok industri besar.

Aspek tersebut meliputi konsistensi ketersediaan bahan baku, standardisasi produk, kapasitas produksi, hingga pemenuhan sertifikasi yang dibutuhkan calon pembeli.

Menurut Indra, Kemenperin telah menyiapkan berbagai program pendampingan, salah satunya melalui Indonesia Food Innovation (IFI), untuk meningkatkan kemampuan pelaku IKM agar lebih siap menghadapi kebutuhan pasar dan persaingan industri.

Melalui program tersebut, peserta memperoleh pelatihan selama satu bulan, termasuk pengembangan dan stabilisasi produk, strategi pemasaran, kesempatan mengikuti pameran, serta fasilitasi sertifikasi seperti Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP).

BACA JUGA:  Fika Kafi Luncurkan Empat Varian Baru

“Tidak semua pelaku IKM memiliki kemampuan yang lengkap. Ada yang sudah bagus dalam membuat produk, tetapi belum memahami pemasaran. Ada juga yang sudah mampu memasarkan, tetapi kualitas produknya masih perlu ditingkatkan,” ujar Indra.

Hal tersebut disampaikan dalam talkshow bertajuk Kemitraan IKM dan Industri Besar Memperkuat Rantai Pasok Pangan yang berlangsung dalam rangkaian pameran KRISTAInterFOOD 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2, Tangerang, Rabu (4/11).

Salah satu strategi yang didorong Kemenperin adalah pengembangan produk intermediate, yakni bahan pangan yang telah melalui proses pengolahan sehingga memiliki daya simpan lebih panjang dan dapat digunakan sebagai bahan baku oleh industri lainnya.

Indra mencontohkan, komoditas pisang dapat diolah menjadi tepung pisang, cabai menjadi pasta cabai, ikan menjadi ikan lumat beku, sedangkan kelapa dapat diproses menjadi tepung kelapa atau desiccated coconut.

Pengembangan produk semacam ini dinilai memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Pelaku IKM mendapatkan peluang meningkatkan nilai jual hasil pertanian dan perikanan, sementara industri besar memperoleh bahan baku yang lebih praktis dan siap diolah sesuai kebutuhan produksi.

BACA JUGA:  Kemenperin Dukung Skuter Listrik Konversi Buatan IKM Laris di Pasar Eropa

Di sisi lain, pengolahan bahan pangan juga dapat menjadi solusi ketika terjadi kelebihan pasokan saat musim panen yang berpotensi menekan harga komoditas segar.

Dengan mengubah bahan baku menjadi produk olahan, pelaku usaha memiliki kesempatan memperpanjang masa simpan sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Kemenperin juga memfasilitasi pertemuan antara pelaku IKM dan calon pembeli melalui program business matching. Namun, Indra menegaskan bahwa membangun kemitraan dengan industri besar membutuhkan proses dan kesiapan yang tidak bisa dilakukan secara instan.

Calon mitra biasanya akan melakukan pengujian produk, mengevaluasi cita rasa dan kualitas, serta meminta penyesuaian harga maupun kemasan sebelum memutuskan kerja sama.

Karena itu, pelaku IKM harus mampu memahami kebutuhan pasar dan bersedia menyesuaikan spesifikasi produknya dengan standar yang ditetapkan calon pembeli.i

Peluang kemitraan tersebut telah dirasakan PT Rasaprima Sukses Makmur, perusahaan produsen bumbu, sambal, dan saus yang pernah mengikuti program Indonesia Food Innovation (IFI) pada 2023.

Director of PT Rasaprima Sukses Makmur, Eko Pratama Saputra, mengatakan keikutsertaan dalam program tersebut memberikan manfaat nyata bagi pengembangan bisnis perusahaan, terutama dalam meningkatkan kualitas dan konsistensi produk.

Selain memperoleh pendampingan, perusahaan juga mendapatkan kesempatan mengikuti berbagai pameran serta fasilitasi sertifikasi yang mendukung peningkatan kepercayaan pasar.

BACA JUGA:  Insta Beauty Center Rayakan Satu Dekade, Cabang Pasar Baru Hadir Lebih Modern

Eko menjelaskan, Rasa Prima yang berdiri sejak 2014 pada awalnya lebih berfokus menggarap pasar ritel. Namun, pandemi Covid-19 mendorong perusahaan melakukan perubahan strategi bisnis dengan memperluas pasar ke segmen business to business (B2B).

Perusahaan kemudian lebih banyak membidik kebutuhan restoran dan jasa katering yang membutuhkan pasokan bumbu dengan kualitas dan cita rasa konsisten.

Strategi tersebut membuahkan hasil. Rasa Prima kini dipercaya memasok produk kepada sejumlah grup usaha besar, di antaranya Ismaya, Boga Group, dan J Culinary.

Produk yang dipasok mencakup berbagai bumbu masakan Indonesia, bumbu nasi goreng roa, hingga sambal ikan roa.

Pengalaman Rasa Prima menjadi gambaran bahwa IKM pangan memiliki peluang untuk berkembang dan masuk ke rantai pasok perusahaan besar apabila mampu menjaga kualitas, konsistensi, serta memenuhi standar kebutuhan industri.

Melalui penguatan kapasitas produksi, inovasi pengolahan bahan baku lokal, dan perluasan kemitraan, Kemenperin berharap semakin banyak IKM pangan yang naik kelas dan menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem industri makanan dan minuman nasional.

Upaya ini sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat penggunaan bahan baku dalam negeri, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta menciptakan rantai pasok pangan yang lebih berdaya saing.