“Cek Teman Sebelah 3.0”, Upaya HCC Bangun Kesehatan Mental Remaja di Sekolah

AdvertisementAds

SUARATERKINI, Jakarta – Health Collaborative Center (HCC) kembali melanjutkan implementasi intervensi psikososial berbasis sekolah melalui program “Cek Teman Sebelah 3.0” di tingkat SMA dan sederajat. Program ini menjadi bagian dari upaya memperkuat empati, kepedulian sosial, serta ketahanan kesehatan mental remaja Indonesia.

Program yang dijalankan di empat sekolah, yakni SMKN 68, SMK Bina Dharma, MAN 15, dan MAN 24 di wilayah binaan Puskesmas Ciracas ini dikembangkan sebagai eksperimen sosial berbasis sekolah. Tujuannya adalah mendorong siswa lebih aktif memperhatikan kondisi emosional dan psikososial teman di sekitarnya.

Pendiri sekaligus Ketua Health Collaborative Center, Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, menjelaskan bahwa pembentukan empati pada remaja dapat dimulai dari langkah sederhana, yakni fokus pada tindakan kebaikan dan kepedulian antarteman.

“Di banyak negara maju dengan indeks kebahagiaan tinggi seperti negara-negara Skandinavia, remaja diajarkan sejak sekolah untuk melakukan metode ‘tootling’ atau melaporkan kebaikan teman dalam bentuk apa pun setiap hari.

HCC juga telah membuktikan melalui studi di beberapa SMA bahwa empati remaja yang menerapkan metode tootling meningkat hingga lima kali lipat. Hal ini yang kemudian memotivasi HCC untuk mengimplementasikannya secara lebih luas,” ucap Dr. Ray, yang juga menjadi inisiator Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa, Rabu (20/5) di MAN 15, Jakarta.

BACA JUGA:  RUU KIA Optimalisasi Perlindungan Hak Kesehatan Ibu Pekerja Perempuan

Program “Cek Teman Sebelah” dipimpin oleh Project Coordinator, Bunga Pelangi. Dalam implementasinya, siswa diajak melakukan aksi sederhana selama beberapa hari, mulai dari memperhatikan perubahan perilaku teman, membuka percakapan yang suportif, hingga melaporkan tindakan kebaikan yang dilakukan teman sebaya.

Menurut Dr. Ray, pendekatan berbasis dukungan sosial ini sangat penting karena berbagai penelitian menunjukkan bahwa hubungan sosial yang sehat antarremaja memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan mental. Dukungan teman sebaya dinilai mampu membantu menurunkan risiko stres psikologis, depresi, hingga perilaku menyakiti diri.

“Kadang intervensi kesehatan mental paling sederhana bukan langsung terapi, tetapi kehadiran manusia lain yang benar-benar peduli,” tambahnya.

HCC memandang sekolah bukan hanya sebagai ruang akademik, tetapi juga ruang pembentukan karakter sosial dan emosional generasi muda. Oleh karena itu, penguatan empati dan solidaritas antarremaja dinilai menjadi bagian penting dalam membangun kesehatan masyarakat jangka panjang.

Program ini juga hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap fenomena isolasi sosial pada anak muda, cyberbullying, tekanan sosial digital, hingga menurunnya kualitas interaksi langsung antarteman.

BACA JUGA:  Survei HCC: 7 dari 10 Responden Tak Berniat Kurangi Makanan Berlemak Selama Puasa

Melalui pendekatan yang ringan, sederhana, dan dekat dengan keseharian remaja, HCC berharap “Cek Teman Sebelah” dapat berkembang menjadi gerakan sosial yang mampu menciptakan lingkungan sekolah yang lebih suportif, aman, sehat, dan manusiawi.

Ke depan, HCC berencana memperluas implementasi program ini ke lebih banyak sekolah dan komunitas remaja di berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari gerakan promotif kesehatan mental berbasis empati sosial.