Inovasi Enzim Dextranase Hadir Jadi Benteng Baru Kesehatan Gigi

AdvertisementAds

SUARATERKINI, Jakarta – Di tengah tingginya konsumsi makanan dan minuman manis masyarakat Indonesia, ancaman kesehatan kini tidak hanya mengintai organ tubuh bagian dalam, tetapi juga menyerang rongga mulut sebagai “korban pertama”.

Rata-rata asupan gula harian masyarakat Indonesia bahkan telah mencapai 62–75 gram per hari, melampaui batas aman anjuran Kementerian Kesehatan yang hanya 50 gram. Kondisi ini membuat risiko gigi berlubang, plak, hingga kerusakan enamel meningkat tajam di berbagai kelompok usia.

Fenomena tersebut semakin menjadi sorotan seiring menguatnya wacana penerapan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) oleh pemerintah. Tingginya konsumsi gula tersembunyi dinilai menjadi salah satu pemicu meningkatnya berbagai Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, hingga gagal ginjal.

Namun sebelum dampak sistemik itu muncul, rongga mulut menjadi area pertama yang terkena efek buruk gula berlebih. Berdasarkan riset, konsumsi makanan dan minuman manis secara berlebihan dapat meningkatkan risiko karies atau gigi berlubang hingga 2,8 kali lipat.

Proses kerusakan gigi bahkan terjadi dalam waktu singkat. Hanya dalam 20 hingga 30 menit setelah mengonsumsi gula, bakteri Streptococcus mutans mulai memetabolisme sisa gula menjadi asam yang dapat mengikis enamel gigi. Tidak hanya itu, bakteri juga mengubah gula menjadi glukan, senyawa lengket yang menjadi fondasi terbentuknya plak pada permukaan gigi.

BACA JUGA:  Senyum Lebih Percaya Diri, usmile Perkenalkan Optical White dengan Teknologi Glitter Ungu

Kondisi inilah yang membuat pembersihan gigi secara mekanis menggunakan sikat gigi dan pasta gigi biasa dinilai belum cukup optimal untuk melawan plak akibat tingginya konsumsi gula harian.

Menjawab tantangan tersebut, usmile menghadirkan inovasi melalui produk usmile Optical White yang mengandalkan kombinasi enzim Dextranase dan Lysozyme sebagai perlindungan biologis terhadap plak dan bakteri penyebab karies.

Dextranase bekerja dengan memecah rantai glukan yang menjadi “lem” plak, sehingga sisa bakteri dan asam lebih mudah dibersihkan dari permukaan gigi. Sementara Lysozyme berfungsi sebagai antibakteri alami yang membantu menghambat perkembangan bakteri patogen di rongga mulut.

Head of Research & Development usmile Global, dr. Liu Jitao, menjelaskan bahwa pendekatan biologis menjadi penting di tengah pola konsumsi gula masyarakat modern yang semakin tinggi.

“Di tengah tingginya asupan gula harian, pembersihan gigi secara mekanis konvensional sering kali tidak lagi memadai karena bakteri mengubah gula menjadi glukan yang sangat lengket.

Riset kami di usmile berfokus pada pencegahan di tingkat biologis. Penggunaan enzim seperti Dextranase terbukti secara klinis mampu mendegradasi glukan tersebut dan menurunkan daya lekat plak pada permukaan enamel.

BACA JUGA:  L'Oréal Paris Kembali ke Festival Film Cannes 2023

Bersama dengan Lysozyme, formulasi ini membongkar fondasi plak dan mencegah demineralisasi secara proaktif sebelum terlambat,” jelasnya kepada redaksi suaraterkini.com, Selasa (12/5).

Selain perlindungan berbasis enzim, usmile Optical White juga dilengkapi teknologi color-correcting berupa busa biru penetral noda kuning pada gigi serta Swiss Haute Fragrance untuk membantu menjaga kesegaran napas lebih lama.

Respons pasar terhadap inovasi ini pun terbilang tinggi. Sejak diperkenalkan pada 6 April 2026, usmile Optical White disebut berhasil mencatat pertumbuhan transaksi harian melampaui Rp100 juta hanya dalam dua minggu pertama peluncuran.

Antusiasme konsumen juga terlihat pada periode 4–10 Mei 2026, ketika produk tersebut berhasil menempati posisi pasta gigi premium nomor satu dalam daftar Weekly Product di TikTok Shop dan masuk jajaran Top 10 Product di Shopee.

Melalui inovasi berbasis sains tersebut, usmile menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan solusi oral care preventif yang relevan dengan gaya hidup masyarakat modern sekaligus membantu membangun perlindungan kesehatan gigi sejak dini di tengah tingginya konsumsi gula masyarakat Indonesia.